Pages

Tampilkan postingan dengan label Wisata Sragen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Sragen. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

OBJEK WISATA ZIARAH MAKAM PANGERAN SAMUDRO DI GUNUNG KEMUKUS

Objek Wisata Ziarah Makam Pangeran Samudro yang lebih dikenal dengan sebutan “GUNUNG KEMUKUS” selalu menarik untuk diulas. Hal yang menjadikan objek wisata ini menarik adalah pandangan pro dan kontra tentang Makam Pangeran Samudro itu sendiri dan kisah yang beredar di tengah masyarakat.
 
Ada 2 (dua) paradigma yang berkembang di tengah masyarakat tentang Makam Pangeran Samudro atau Gunung Kemukus. Pertama, adanya keyakinan di sebagian masyarakat bahwa apabila ingin ngalap berkah atau permohonannya terkabul, maka orang yang datang ke Makam Pangeran Samudro harus melakukan ritual berhubungan intim dengan lawan jenis yang bukan suami atau istrinya selama 7 (tujuh) kali dalam satu lapan ( 1 lapan = 35 hari).

Paradigma negatif ini perlu diluruskan agar para peziarah tidak terjebak dalam paradigma dan kepercayaan yang keliru. Setiap peziarah atau pengunjung yang menginginkan permohonan atau keinginannya terkabul haruslah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan berdo’a dan berusaha di jalan yang benar. Singkatnya, paradigma negatif yang berkembang di tengah masyarakat tersebut tidak benar adanya.

Kedua, berziarah ke Makam Pangeran Samudro atau Gunung Kemukus adalah suatu kegiatan ritual yang mengandung nilai keutamaan dengan mengingat jasa dan keluhuran jiwa dari figur yang diziarahi. Dengan berziarah di tempat tersebut, manusia diharapkan  untuk selalu ingat akan kematian sehingga dalam kehidupan sehari-hari mereka akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu berbuat kebaikan sesuai dengan keluhuran jiwa dan teladan dari figur yang diziarahi. 

Sejarah Pangeran Samudro

 Pangeran Samudro adalah putra Raja Majapahit terakhir dari ibu selir. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya yang lain. Bahkan beliau bersama ibunya ikut diboyong ke Demak Bintoro oleh Sultan Demak. Pada waktu itu beliau telah berusia 18 tahun.

Selama berada di Demak, Pangeran Samudro mendapat bimbingan ilmu agama dari Sunan Kalijaga. Ketika dirasa cukup dan usianya telah semakin dewasa maka atas petunjuk dari Sultan Demak melalui Sunan Kalijaga, Pangeran Samudro diperintahkan untuk berguru tentang agama Islam kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur di lereng Gunung Lawu sekaligus mengemban misi suci untuk menyatukan saudara-saudaranya yang telah tercerai berai. Pangeran Samudro mentaati nasehat tersebut dan pergi berguru pada Kyai Ageng Gugur dengan didampingi oleh dua abdinya yang setia.
 
Selama berguru kepada Kyai Ageng Gugur, Pangeran diberi ilmu tentang intisari ajaran Islam secara mendalam. Selama itu pula, Pangeran tidak mengetahui bahwa Kyai Ageng Gugur  sebenarnya adalah kakaknya sendiri. Ketika dirasa Pangeran Samudro telah menguasai ilmu yang diajarkan, Kyai Ageng Gugur baru menceritakan siapa beliau sesungguhnya. Betapa terkejutnya Pangeran Samudro mendengar cerita tersebut, karena beliau teringat akan amanat Sultan Demak untuk menyatukan saudara-saudaranya. Akhirnya, Pangeran Samudro menceritakan tentang amanat tersebut. Ternyata Kyai Ageng Gugur bisa menerima dan bersedia dipersatukan kembali dan ikut membangun Kerajaan Demak.
 
Setelah selesai berguru dan tercapai maksud tujuannya, Pangeran Samudro dan dua abdinya kembali ke Demak. Mereka berjalan ke arah barat dan sampailah mereka di Desa Gondang Jenalas (sekarang wilayah Gemolong) kemudian mereka beristirahat untuk melepaskan lelah. Di dukuh tersebut mereka bertemu dengan orang yang berasal dari Demak (Wulucumbu Demak) yang bernama Kyai Kamaliman. Di dukuh ini, Pangeran Samudro berniat bermukim sementara untuk menyebarkan agama Islam.
 
Setelah dirasa cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat  dan sampai di suatu tempat di padang “oro-oro” Kabar. Sampai sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dusun Kabar, Desa Bogorame (Gemolong). Di tempat ini Pangeran Samudro terserang sakit panas. Walaupun demikian,  perjalanan tetap dilanjutkan sampai  ke Dukuh Doyong (wilayah Kecamatan Miri). Karena sakit yang diderita semakin parah, Pangeran memutuskan untuk beristirahat di dukuh tersebut.

Ketika sakitnya semakin parah dan dirasa akan sampai pada ajalnya/hampir meninggal, Pangeran Samudro memerintahkan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Seusai mendengar amanat Sultan, abdi tersebut diperintahkan untuk segera kembali. Dan ketika abdi tersebut kembali ke tempat di mana Pangeran beristirahat, Pangeran Samudro telah meninggal. Selanjutnya sesuai dengan petunjuk Sultan, jasad Pangeran Samudro dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut. Sebelum pemakaman, diadakan musyawarah di antara orang-orang yang memiliki lahan di sekitar wilayah itu. Mereka bersepakat bahwa lokasi bekas perawatan/peristirahatan Pangeran Samudro akan didirikan desa baru dan diberi nama “Dukuh Samudro” yang sampai kini terkenal dengan nama “Dukuh Mudro”. 
»»  

DESA WISATA BATIK KLIWONAN

Image
Klaster industri batik di Desa Kliwonan dan Desa Pilang Kecamatan Masaran oleh Pemkab Sragen selanjutnya dikembangkan menjadi kawasan wisata dengan brandmark ‘’Desa Wisata Batik Kliwonan’’.  Pengembangan kawasan dilakukan dengan pendekatan ekoturisme berkelanjutan yang menekankan pada pemberdayaan warga lokal dan mengangkat potensi ekonomi, keunikan, kearifan lokal serta memperhatikan keseimbangan ekologi.

Ada beberapa aktivitas wisata yang ditawarkan kepada pengunjung, antara lain: belanja batik berkualitas tinggi dengan harga murah, wisata belajar membatik 3 jam dan mendalam, belajar membuat gerabah sawah, mengenal proses bertani, wisata kuliner makanan khas desa, menjelajah desa, fotografi luar ruang (alam), festival desa batik (antara bulan Agustus-Nopember tiap tahun).

Menyusuri jalanan desa di pagi hari, bersepeda sambil menghirup udara segar tanpa polusi di tengah hamparan persawahan adalah aktivitas  menyenangkan dan menyehatkan. Jika cuaca bersahabat, di kejauhan terlihat siluet Gunung Merapi dan Merbabu ditimpa cahaya keemasan matahari yang sedang terbit.

Di salah satu sudut jalan desa --dari arah ketinggian, tampak aliran Sungai Bengawan Solo berkelok-kelok di bawahnya. Aktivitas penambang pasir tradisional di sungai dengan puluhan rakit bambu menjadi atraksi menarik. Saat senja, merupakan lokasi tepat menikmati pemandangan matahari terbenam.


SENTRA INDUSTRI BATIK KHAS SRAGEN

Solo,Yogyakarta, dan Pekalongan adalah kota-kota yang selama ini lebih dikenal sebagai pusat batik di Indonesia.  Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, pusat-pusat produksi batik pun dapat ditemukan di daerah lain di Jawa Tengah.

Image

Kabupaten Sragen, misalnya, memiliki dua sub sentra batik yakni Kecamatan Plupuh dan Masaran. Kawasan tersebut memiliki beberapa desa penghasil batik. Letak mereka pun berdekatan, saling berseberangan di sisi utara dan selatan Sungai Bengawan Solo. Karena berada di pinggiran sungai atau kali --dalam bahasa Jawa, industri Batik di kawasan tersebut juga dikenal dengan sebutan Batik Girli (Pinggir Kali). Tapi ada juga yang mengenalnya dengan sebutan batik Kliwonan, mengambil nama salah satu desa produsen yang berlokasi di Kecamatan Masaran.

Di sentra batik Kliwonan terdapat 85 UKM yang mampu menyerap sekitar 5000 tenaga pembuat batik. Sementara  secara keseluruhan terdapat 15.000 pembuat batik yang tersebar di semua wilayah Kabupaten Sragen. Dalam setahun mereka mampu menghasilkan batik jenis katun sebanyak 50.000 potong dan batik jenis sutera dari alat tenun bukan mesin sebanyak 365.000 potong. Batik yang dihasilkan dari sentra industri batik Girli tersebut kemudian disetorkan ke juragan batik Solo dan diberi label pengepul ataupun dijual langsung ke pemilik kios di Pasar Klewer Solo.

Maka tak mengherankan bila batik Kliwonan alias batik Sragen menjadi tidak pernah terdengar. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Sragen lalu menetapkan sentra batik Girli menjadi kawasan wisata terpadu, dengan nama pencitraan (brandmark)  Desa Wisata Batik Kliwonan. Kawasan desa wisata batik ini sekaligus diarahkan menjadi kawasan kunjungan wisata, pusat pengembangan, pelatihan, dan pemasaran batik khas Sragen.

Motif batik Sragen pada umumnya identik dengan Batik Solo dan Yogyakarta, karena para pionir pengusaha batik Sragen adalah buruh juragan batik di Solo di masa silam. Namun, generasi yang lebih muda kini mulai berani memembuat motif batik yang berbeda dari batik Solo. Perbedaan yang mulai muncul adalah batik Sragen cenderung memiliki warna dasar lebih terang, sedangkan motifnya memadukan corak baku/klasik dengan gambar flora dan fauna.

Pintu masuk menuju Sentra Batik khas Sragen dapat diakses melalui daerah Gronong, Kecamatan Masaran, 17 km arah timur laut dari kota Solo. Tepatnya 100 m sebelah utara gapura batas Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen. Pintu masuk berikutnya adalah sebelah barat Pasar Masaran, di JL Solo-Sragen Km. 20.   





Festival Desa Batik :
Pesta Desa Serba Batik


Festival Desa Batik pada awalnya adalah event bersih desa sebagai wujud syukur warga desa atas panen padi yang melimpah. Event ini kemudian terus mengalami berbagai modifikasi sehingga memasukkan unsur batik ke dalam pesta panen. Perpaduan dunia agraris dan batik merupakan fenomena menarik dan unik untuk disaksikan. Maka dalam Festival Desa Batik akan dijumpai aneka atraksi antara lain : pawai hasil pertanian, pawai alat pertanian berhias batik, pawai hewan ternak berhias batik, pawai lampion batik, lomba desain batik, balapan mencanting, pawai orang-orangan  (memedi) sawah, pawai caping lukis batik, dan sebagainya. Di samping itu, warga juga menggelar berbagai pertunjukan kesenian seperti sandiwara,  kesenian musik kentongan, nasyid (acapela) bocah. Sebagai puncak acara, festival desa batik ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
»»  

nDAYU ALAM ASRI Keindahan Panorama Pedesaan

Image
Di Kabupaten Sragen telah berdiri sebuah tempat wisata bernuansa pedesaan yang sangat lengkap dan sarat dengan nilai pendidikan dan hiburan. Dayu Alam A sri begitulah objek wisata ini dinamakan. Sesuai dengan namanya, tempat wisata ini sangat dekat dengan nuansa alam nan asri. Terletak di Desa Dayu, Kecamatan Sragen sekitar 20 KM dari Kota Solo; Dayu Alam Asri menyimpan sejuta potensi yang siap dinikmati oleh para wisatawan dari berbagai usia. Selain karena keindahan alam pedesaan yang mempesona dengan deretan pohon jati yang menaungi areal seluas hampir 5 Ha, berbagai fasilitas pendukung telah disediakan demi kenyamanan para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini. Antara lain : mini zoo , wahana bermain dan ketangkasan, agrowisata, resort , pendopo pertemuan, gazebo, kolam renang lengkap dengan arena luncuran, resto, dan sebagainya.

Sebuah kebun binatang mini ( mini zoo ) menjadi salah satu spot menarik dari objek wisata ini. Koleksi binatang yang hidup dan terpelihara dengan baik di mini zoo ini antara lain rusa, kanguru, landak, ular, burung merak, elang, berbagai jenis ikan langka seperti ikan lele afrika, ikan arapaima, dan alligator fish . Selain sebagai kebun binatang mini, tempat ini juga berfungsi sebagai tempat penangkaran beberapa jenis binatang di atas.

Objek wisata ini memiliki konsep sebagai daerah tujuan wisata keluarga, sehingga semua orang dari berbagai usia dapat menikmati kenyaman an dan hiburan yang ditawarkan oleh tempat ini. Fasilitas-fasilitasnya pun tersedia lengkap baik bagi anak-anak, remaja, maupun orang tua.
Masuk lebih jauh ke arena wisata ini, para wisatawan akan disuguhi sebuah taman lalu lintas di mana anak-anak bisa bermain dan belajar tentang disiplin berlalu lintas dengan cara yang tentu saja mengasyikan dan mudah diterima oleh mereka. Selain itu, mereka juga bisa bermain air sepuasnya di kolam renang yang lengkap dengan luncuran yang penuh warna.
ImageImage
Selain itu bagi para wisatawan yang menyenangi tantangan serta kegiatan yang cukup ekstrim dan menantang adrenalin, sebuah wahana flying fox yang terbentang di atas sungai selebar 50 M siap untuk dijajal. Atau jika Anda tidak begitu suka dengan ketinggian namun tetap menginginkan tantangan, cobalah untuk ber- canoeing menyusuri sungai Dayu. Ini tentu akan menjadi pengalaman yang sangat mendebarkan. Aktivitas air yang lain adalah memancing. Anda bisa memuaskan kegemaran Anda dalam hal memancing di sungai Dayu. Sejumlah perahu disediakan bagi Anda yang dapat di manfaatkan saat memancing atau sekedar untuk menikmati panorama alam dari atas permukaan air.
Untuk menambah citra tempat wisata ini sebagai objek wisata alam dan wisata agro, areal pertanian organi k terhampar luas di sini. Berbagai jenis tanaman sayur dan buah tumbuh dengan sangat subur tanpa terkontaminasi dengan bahan-bahan kimia yang berbahaya karena semua tanaman ini menggunakan pupuk organi k yang berasal dari kotoran hewan sehingga sangat sehat untuk dikonsumsi. Tanaman-tanaman tersebut antara lain : buah naga, p e paya jeruk, pisang, kacang panjang, cabai, tomat, pare, terung, singkong, ubi jalar, ceme, sawi hijau, mangga, tebu, padi, dan masih banyak lagi. Selain itu, di objek wisata ini juga bisa dijumpai tanaman Rosella yang daunnya setelah diolah bisa dijadikan minuman sejenis teh. Sebuah green house (rumah kaca) yang menaungi berbagai jenis tanaman hias yang sedap dipandang dan berbagai jenis tanaman obat juga telah didirikan di lokasi wisata ini.
ImageImage
»»  

PEMANDIAN AIR PANAS BAYANAN | Tempat Wisata untuk Kesehatan Anda

Gejala-gejala alam seperti  terjadinya gempa bumi, munculnya sumber air panas, munculnya gas beracun, dan  kandungan berbagai bahan mineral banyak ditemukan di daerah vulkanis, seperti di Indonesia maupun di negara lain yang dilalui deretan gunung berapi (Mediterania). Walaupun demikian, Kabupaten Sragen yang berada jauh dari jalur gunung berapi memiliki sumber air panas alam yang keluar dari dalam bumi dan berada dua meter di atas sungai yang terletak di sebelahnya. Sumber air panas tersebut terdapat di Dusun Bayanan, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen.
 
Air panas yang berada di Bayanan ini memiliki keistimewaan yang membedakannya dengan sumber air panas di daerah lain. Keistimewaan tersebut antara lain : Sumber air panas tersebut berasal dari dalam bumi namun tidak bocor atau mengalir ke sungai yang berada tepat dua meter di atasnya. Apabila pengunjung mandi pada pagi, sore, atau malam hari; suhu air bertambah panas sehingga keringat banyak keluar. Tetapi sebaliknya, apabila pengunjung mandi pada siang hari; suhu air menurun sehingga keringat tidak banyak keluar. Pemandian Air Panas Bayanan merupakan salah satu daerah tujuan wisata minat khusus yang dimiliki oleh Kabupaten Sragen, dalam hal ini adalah untuk wisata kesehatan (health tourism) yang dipadukan dengan daya tarik wisata alam atau ekowisata. 
 
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, air panas Bayanan dianggap memiliki banyak khasiat dalam menyembuhkan berbagai penyakit, seperti: rematik, gatal-gatal, dan penyakit lainnya. Sehingga oleh orang terdahulu sumber air panas itu dinamakan “Hyang Tirto Nirmolo”. Ternyata banyak orang yang mengaku telah merasakan khasiat air tersebut sehingga menyebabkan semakin banyak pengunjung yang berdatangan untuk membuktikan sendiri khasiatnya. Selain bisa menyembuhkan berbagai penyakit di atas, air panas tersebut dipercaya juga bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah, memulihkan kebugaran tubuh, meningkatkan vitalitas tubuh, memelihara kesegaran sendi–sendi dan otot, menghilangkan capek-capek, dan membuat awet muda.
  
Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan melakukan aktivitas olahraga. Kawasan PAP Bayanan merupakan tempat yang tepat untuk melakukan beberapa aktivitas olahraga, dari olahraga ringan yang menyenangkan misalnya berenang atau berjalan-jalan (trekking) sampai olahraga yang penuh tantangan dan memacu adrenalin misalnya outbound mengingat topografi kawasan Bayanan yang berbukit-bukit sangat cocok untuk olahraga tersebut. Aktivitas outbound telah banyak diadakan di kawasan Bayanan ini baik oleh instansi pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum. Untuk menambah variasi dalam aktivitas outbound; PAP Bayanan juga telah dilengkapi dengan fasilitas flying fox, torch ball, dan elvis bridge. Di samping outbound, aktivitas perkemahan juga sering diadakan di kawasan ini.

Selain sebagai wisata kesehatan karena khasiat yang dimiliki oleh air panas ini dalam menyembuhkan berbagai penyakit, Pemandian Air Panas Bayanan juga memiliki daya tarik wisata alam (ekowisata). Suasana alam pedesaan yang masih alami dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang ingin melepaskan diri dari kepenatan dan kesibukan untuk sementara waktu dan merindukan ketenangan. Pada saat-saat tertentu, misalnya menjelang Bulan Puasa dan Lebaran, di objek wisata ini sering diselenggarakan kegiatan seni budaya, misalnya pentas dangdut maupun campursari.  


Melalui penyelidikan ilmiah diketahui bahwa panasnya air dan zat yang terkandung di dalamnya diduga berasal dari sentuhan magma (panas bumi) yang menyentuh sumber air tanah yang sangat dalam dan sampai terasa di permukaan sebagai sumber air panas. Panasnya air tepat pada sumbernya + 44 0C, dan setelah sampai permukaan di bak kamar mandi menjadi + 36 0C, sesuai dengan suhu badan manusia, sehingga akan terasa enak dan nyaman untuk mandi.Penyelidikan yang dilakukan oleh Balai Penyelidikan Dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta menunjukkan adanya banyak unsur/senyawa kimia yang terkandung dalam Sumber Air Panas Bayanan antara lain belerang (Sulfur). 

Pemandian Air Panas Bayanan ini terletak tepat di sebelah tenggara ibukota Kabupaten Sragen yaitu di Dusun Bayanan, Desa Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen. Letak GeografisSecara geografis, Pemandian Air Panas Bayanan terletak sekitar 17 KM di sebelah tenggara  ibukota Kabupaten Sragen atau 44 KM dari Kota Solo. Jarak tersebut bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun dengan angkutan umum. Dari pusat kota Sragen dapat ditempuh dengan Angkudes jurusan Bayanan – Sambirejo dengan rute : Sragen – Ngarum – Blimbing – Bayanan pp. 

Sarana dan prasarana pendukung pariwisata yang tersedia di Pemandian Air Panas Bayanan cukup memadai. Fasilitas-fasilitas umum yang tersedia di objek wisata ini antara lain WC umum, kamar mandi air panas, ruang ganti pakaian, jalan setapak, warung makan, tempat penginapan, toko kelontong, tempat parkir yang memadai, taman bermain anak, kolam renang, hutan wisata, ruang informasi, dan mushola.Kondisi jalan menuju ke ODTW Pemandian Air Panas Bayanan cukup baik berupa jalan aspal selebar ± 4 M.
»»  

Waduk Kedung Ombo


Waduk Kedung Ombo merupakan bendungan raksasa seluas 6.576 hektar yang areanya mencakup sebagian wilayah di tiga Kabupaten, yaitu; Sragen, Boyolali, dan Grobogan. Waduk yang membendung lima sungai itu terdiri dari wilayah perairan seluas 2.830 hektar dan 3.746 hektar lahan yang tidak tergenang air.

Lokasi obyek wisata Waduk Kedung Ombo yang menjadi andalan Sragen terletak di Kecamatan Sumberlawang, sekitar 30 km dari pusat kota. Selain disuguhi pemandangan nan indah, para pengunjung Waduk Kedung Ombo bisa menikmati wisata air, menumpang perahu motor bertualang mengunjungi pulau-pulau yang bermunculan di tengah waduk. Anda penyuka ikan bakar atau hobi mengail ikan? Jangan khawatir, di Waduk Kedung Ombo juga tersedia tempat pemancingan sekaligus warung yang menjajakan aneka makanan olahan berbahan ikan. Begitu turun dari kendaraan di area parkir, aroma wangi ikan yang dibakar atau digoreng langsung menyergap, mengundang selera makan.

Di kawasan Waduk Kedung Ombo, tepatnya di desa Ngargotirto, telah dibangun arena pacuan kuda dengan lintasan sepanjang 600 meter. Arena pacuan kuda yang diberi nama Nyi Ageng Serang itu merupakan miniatur dari lapangan pacuan kuda Pulo Mas Jakarta. Pada bulan Desember 2006 silam di lokasi tersebut dilangsungkan kejuaraan pacuan kuda tingkat nasional memperebutkan piala Gubernur Jawa Tengah.

Potensi pengembangan obyek wisata adalah memperbanyak homestay yang menyatu dengan rumah penduduk, sehingga para wisatawan dapat tinggal lebih lama di kawasan Waduk Kedung Ombo. Adanya homestay membuat wisatawan dapat melihat dari dekat kehidupan sehari-hari masyarakat, dan bahkan menjalani kehidupan seperti penduduk lokal, selang beberapa waktu.
Investasi juga dapat ditanam di sektor perikanan darat dengan metode karamba dan dilengkapi restoran apung. Di bantaran seputar waduk, cocok untuk mengembangkan usaha agrobisnis buah-buahan dan sayur mayur. Selain dekat dengan sumber air yang diambil dari waduk, kualitas air waduk juga bersih dari polutan.

Bila tak ingin setengah-setengah menerjuni bisnis pariwisata, investor bisa mengembangkan kompleks wisata terpadu di Kedung Ombo. Investor dapat memanfaatkan obyek wisata air, karamba serta restoran apung, dan arena pacuan kuda yang sudah tersedia, sembari membangun wisata agrobisnis, taman safari, lapangan golf, dan juga kereta gantung untuk menikmati pemandangan kompleks Kedungombo dari ketinggian. Bila kompleks wisata terpadu ini terwujud, pengunjung pasti akan memperoleh petualangan mengesankan, unik, dan dirindukan.

»»  

Minggu, 08 Mei 2011

Museum Purbakala Sangiran

Museum Purbakala Sangiran di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah

A. Selayang Pandang
Tanah Jawa dikenal sebagai salah satu tempat hunian manusia purba. Terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di berbagai tempat di Jawa, seperti di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong, dan Sambungmacan (Jawa Tengah), serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur). Temuan pertama yang dicatat sejarah adalah ekskavasi yang dilakukan Eugene Dubois di Desa Ngandong, Trinil, Mojokerto, Jawa Timur, yang berhasil menemukan fosil Pithecanthropus Erectus pada tahun 1893. Sekitar 40 tahun kemudian, terungkap bahwa selain di Trinil dan Perning, banyak fosil manusia purba dan peralatannya ditemukan di daerah Sangiran, Kabupaten Sragen, sekitar 20 kilometer dari Kota Surakarta. Daerah ini merupakan bagian dari kaki bukit Gunung lawu dan dialiri Sungai Cemoro yang bermuara di Sungai Bengawan Solo.
Sebelum kedatangan Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald atau yang dikenal dengan nama GHR. von Koenigswald, daerah perbukitan (dome) Sangiran hanya diketahui sebagai perbukitan tandus. Koenigswald adalah peneliti yang menemukan sejumlah alat serpih dari batuan jaspis dan kalsedon pada tahun 1934 di daerah Sangiran. Temuan alat-alat peninggalan manusia purba dalam jumlah besar itu (sekitar 1.000 lebih alat dari batu) dikenal dengan sebutan “Sangiran Flakes-industry” (Jatmiko, dalam http://indoarchaeology.com).
Temuan awal tersebut disusul dengan temuan penting berikutnya, yakni fosil rahang bawah (mandibula) yang diperkirakan sebagai fosil Meganthropus paleojavanicus, serta fosil Pithecanthropus erectus yang dikenal sebagai “manusia Jawa”. Penemuan penting ini sontak menarik minat para peneliti lainnya untuk menelusuri jejak-jejak kehidupan purba di bukit Sangiran. Penelitian-penelitian selanjutnya melibatkan para pakar dari Indonesia, seperti T. Jacob dan S. Sartono yang memulai ekskavasi sekitar tahun 1960-an. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Balai Arkeologi Yogyakarta juga berperan besar dalam penelitian-penelitian yang berkaitan dengan fosil-fosil purba di Sangiran (Jatmiko, dalam http://indoarchaeology.com). 

Fosil-fosil tengkorak manusia purba di Museum Sangiran
Hingga saat ini, terungkap bahwa sekitar 65 persen fosil manusia purba di Indonesia ditemukan di lokasi ekskavasi Sangiran. Jumlah tersebut ternyata mencakup sekitar 50 persen dari populasi takson homo erectus di dunia. Itulah mengapa banyak para peneliti asing tertarik untuk mengunjungi dan meneliti situs terkemuka ini. Menariknya, kawasan kubah Sangiran (Sangiran Dome) yang memiliki luas sekitar 56 kilometer persegi, meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, ternyata merupakan situs yang sangat kaya. Kawasan ini tidak saja menjadi tempat ditemukannya berbagai fosil manusia purba, melainkan juga berbagai fosil makhluk hidup dan tumbuhan yang beraneka, serta lapisan-lapisan tanah yang “terbuka” secara alami yang sangat bermanfaat bagi penelitian-penelitian geologis.
Kubah Sangiran dilalui oleh Kali Cemoro yang membuat kawasan ini secara alamiah mengalami erosi, sehingga lapisan-lapisan tanah yang berusia sekitar 2 juta tahun hingga 200 ribu tahun yang lalu, atau lapisan tanah dari masa pliosen akhir hingga akhir pleistosen tengah, dapat terlihat (http://id.wikipedia.org). Tak hanya itu, setiap lapisan juga menyimpan informasi mengenai kehidupan masa lampau yang terekam melalui jenis tanah, batuan, tumbuhan, fosil makhluk hidup, serta peralatan-peralatan yang digunakan. Bukan saja fosil-fosil makhluk hidup di darat, kawasan Sangiran juga menyimpan ribuan fosil-fosil makhluk hidup laut, karena kawasan ini pada jutaan tahun yang lalu merupakan hamparan dasar laut. Oleh karena aktivitas geologis, daerah ini kemudian naik menjadi dataran (http://id.wikipedia.org).
Untuk melindungi situs pubakala ini, pemerintah menetapkan kawasan Sangiran sebagai cagar budaya ditandai dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977. Antusiasme dunia internasional juga terlihat dengan dikukuhkannya situs Sangiran sebagai salah satu warisan dunia (world heritage) pada tahun 1996. Penetapan ini dilakukan oleh Komite World Heritage UNESCO pada ulang tahun ke-20 organisasi ini di Kota Merida, Meksiko, dengan nomor urut 593 (http://www.lintasdaerah.com). 
Selain menjadi lokasi penelitian, sejak tahun 1986, di kawasan ini dibangun sebuah museum untuk menampung minat para pelancong mengetahui jejak-jejak manusia purba. Museum Purbakala Sangiran diresmikan pada 17 Agustus 1988 dengan memamerkan berbagai temuan fosil dan peralatan manusia purba yang ditemukan di kawasan ini. 

B. Keistimewaan

Museum Purbakala Sangiran atau yang biasa disingkat Museum Sangiran merupakan museum dengan koleksi fosil dan benda-benda kepurbakalaan mencapai sekitar 13.809 koleksi, sehingga dianggap sebagai museum purbakala terlengkap di Indonesia. Dari ribuan fosil tersebut, sekitar 2.934 fosil disimpan di ruang pameran Museum Sangiran, sementara 10.875 fosil lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan (http://gemolong.multiply.com). Museum ini sangat bermanfaat untuk mengetahui atau memperdalam pengetahuan yang berkaitan dengan teori evolusi, ilmu antropologi, arkeologi, geologi, serta paleoantropologi.
Mengunjungi museum yang terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen ini, Anda akan mendapati bangunan dengan arsitektur rumah joglo yang dibangun di atas areal seluas 16.675 meter persegi. Bangunan tersebut terbagi ke dalam beberapa ruangan, antara lain ruang pameran atau ruang utama, ruang laboratorium, ruang pertemuan, ruang display bawah tanah, ruang audio visual, serta ruang penyimpanan fosil.
Memasuki ruang utama, wisatawan akan memperoleh informasi lengkap mengenai proses ekskavasi yang dilakukan von Koenigswald yang berhasil menemukan fosil Pithecantropus erectus atau yang juga dikenal dengan nama kera besar berjalan tegak. Selain Pithecantropus erectus, museum ini juga memamerkan replika fosil-fosil lainnya, seperti Pithecanthropus mojokertensis (Pithecantropus robustus), Meganthropus palaeojavanicus, Pithecanthropus erectus, Homo soloensis, Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, serta Homo sapiens. Meskipun hanya replika dari fosil yang asli, namun tiruan tersebut dibuat secara detail dan mendekati bentuk aslinya. Fosil asli saat ini disimpan di Museum Geologi Bandung dan Laboratorium Paleoantropologi UGM, Yogyakarta.
Selain fosil manusia purba, dipamerkan juga berbagai fosil binatang purba, antara lain fosil gajah purba yang terdiri dari Elephas namadicus, Stegodon trigonocephalus, Mastodon sp, kerbau (Bubalus palaeokarabau), harimau (Felis palaeojavanica), babi (Sus sp), badak (Rhinocerus sondaicus), sapi atau bateng (Bovidae), rusa (Cervus sp), serta kuda nil (Hippopotamus sp). Ada juga fosil binatang-binatang air yang terdiri dari buaya (Crocodillus sp), ikan, kepiting, gigi ikan hiu, moluska (Pelecypoda dan Gastropoda ), serta kura-kura (Chelonia sp).

Fosil-fosil binatang purba

Untuk memberikan gambaran mengenai cara hidup manusia purba, museum ini menyediakan diorama yang menggambarkan patung manusia purba di tengah ekosistemnya. Kita dapat melihat raut wajah, bentuk tubuh, dan lingkungan rekaan tersebut untuk memperoleh pemahaman mengenai cara hidup mereka. Selain itu, dipajang pula berbagai peralatan dari batu, antara lain alat serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak. Alat-alat dari jaman arkais tersebut digunakan oleh manusia purba untuk membunuh binatang, memotong daging atau tumbuh-tumbuhan, serta berfungsi juga sebagai senjata. Di museum ini, para pengunjung juga diperlihatkan beberapa jenis batuan yang terdiri dari batuan meteorit/taktit, kalesdon, diatome, agate, dan ametis.

Diorama yang menggambarkan kehidupan manusia purba
Di samping menimba pengetahuan melalui fosil dan benda-benda purbakala tersebut, wisatawan juga dapat memperdalam pengetahuan dengan menonton film tentang sejarah situs Sangiran dan gambaran visual di ruang audio visual. Film tersebut meggambarkan proses ekskavasi dan gambaran hidup manusia purba yang berjalan tegak dengan durasi selama 20 menit.

C. Lokasi

Museum Purbakala Sangiran terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sementara situs Sangiran sendiri (Sangiran Dome) terletak di tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, antara lain Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh.

D. Akses

Situs Sangiran terletak sekitar 17 kilometer arah utara Kota Solo. Dari Kota Solo, wisatawan bisa menyusuri jalur Kalijambe untuk sampai ke Museum Sangiran. Apabila berangkat dari Yogyakarta, maka Anda harus menuju Kota Solo, kemudian mengikuti jalur ke utara menuju Kalijambe-Sangiran. Jika berangkat dari Semarang, Anda dapat menempuh jarak sekitar 100 kilometer, melalui Purwodadi, Kalijambe, kemudian Sangiran. Rute lainnya, dari Semarang bisa melewati Salatiga, Karang Gede (Boyolali), Gemolong, Kalijambe, kemudian Sangiran. Sedangkan bila berangkat dari Surabaya, wisatawan harus menempuh jarak sekitar 280 kilometer, melewati jalur Madiun-Ngawi, kemudian memasuki Sragen dan dilanjutkan menuju jalur Kalijambe-Sangiran.

E. Harga Tiket

Tiket untuk memasuki situs Sangiran dan Museum Purbakala Sangiran berbeda. Untuk memasuki Museum Purbakala Sangiran, wisatawan hanya dikenai biaya Rp1.500,00 per wisatawan. Namun, sebelum memasuki museum, wisatawan akan dikenai berbagai komponen biaya lainnya, yaitu biaya masuk kawasan situs dan biaya parkir. Biaya tiket untuk memasuki kawasan situs Sangiran dibedakan antara wisatawan dalam negeri dan wisatawan asing. Wisatawan domestik dikenai tiket sebesar Rp2.000,00, sedangkan wisatawan asing sebesar Rp7.500,00.
Bagi Anda yang membawa kendaraan juga dikenai biaya parkir, yakni Rp500,00 untuk motor, Rp1.000,00 untuk mobil, dan Rp5.000,00 untuk bus. Apabila hendak mengadakan penelitian, maka dikenai biaya tambahan sebesar Rp 50.000,00 per orang. Selain komponen-komponen biaya tersebut, wisatawan yang ingin memanfaatkan informasi melalui ruang audio visual (minimal untuk rombongan sekitar 25 orang), maka ada biaya tambahan sebesar Rp 2.000,00 per orang.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Untuk meningkatkan pelayanan kepada para wisatawan, di kawasan situs Sangiran telah dibangun sebuah menara pandang. Para wisatawan bisa menikmati keindahan dan keasrian panorama di sekitar kawasan Sangiran dari ketinggian melalui menara pandang tersebut. Jika ingin lebih jelas, maka wisatawan dapat menggunakan teleskop yang disewakan. Tak hanya itu, situs Sangiran juga telah dilengkapi dengan sarana audio visual, pemandu (guide), taman bermain untuk anak-anak, serta fasilitas mobil mini (mini car) yang dapat digunakan oleh wisatawan atau peneliti yang ingin berkeliling di situs Sangiran.
Di tempat ini juga telah disediakan sebuah penginapan yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan maupun para peneliti. Wisma dengan bentuk rumah joglo tersebut telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti lobby atau pendopo yang lengkap dengan perangkat meja-kursi untuk pertemuan, kamar-kamar yang representatif, ruang keluarga, serta tempat parkir yang memadai. Wisatawan yang ingin pulang dengan membawa suvenir khas zaman arkais dapat membelinya di warung-warung suvenir yang ada di sekitar situs. Suvenir-suvenir khas dari kampung purba ini kebanyakan tiruan alat-alat manusia purba dari batu, serta patung-patung mini Pithecanthropus erectus.
»»